CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Sabtu, 15 November 2008

SEMBILAN ELEMEN JURNALISME

The Element of Journalism: What Newspeople Shoul Know and the Public Should Expert, buku yang ditulis oleh Bill Kovach dan koleganya Tom Rosenstiel (April 2005) 205 halaman. Di Indonesia, buku ini ditebitkan dengan judul Sembilan Elemen Jurnalisme oleh Yayasan Pantau, bekerjasama dengan Institut Arus Informasi dan Kedutaan Besar Amerika. Kata pengantar edisi Indonesia ditulis oleh Goenawan Mohammad sedangkan epilognya ditulis oleh Andreas Harsono.

“Buku hebat yang secara luar biasa menggambarkan problem, mengartikulasikan nilai, memaparakan risiko, dan menawarkan cara yang bisa dipahami dan dipraktikan untuk menanggapi kesulitan yang dialami jurnalisme saat ini. Elemen Jurnalisme layak menjadi bacaan wajib setiap institusi dan siapa pun yang terlibat dalam jurnalisme.”
---Neil Rudenstine--- rektor Harvard University
“Saat kemajuan teknologi dan kekuatan dunia usaha menghasilkan tantangan yang sangat dahsyat terhadap nilai – nilai tradisional dalam jurnalisme, Kovach dan Rosenstiel menulis pelajaran yang sangat berharga tentang siapa kita, apa yang kita kerjakan, dan bagaimana seharusnya kita melakukannya.”
---David Halberstam--- wartawan peraih Pulitzer Prize
“Di zaman ketika kedengkian partisan yang polah tingkahnya digerakan oleh rating telah mendesak nilai – nilai bermanfaat dari jurnalisme yang solid, Tom Rosenstiel dan Bill Kovach menghadirkan kesegaran yang muncul tepat waktu mengenai pentingnya dasar – dasar pers. Mereka mengingatkan kita bahwa pada saat terbaiknya, jurnalisme adalah panggilan kemasyarakatan yang mulia, dan mereka yang mempraktikannya punya kewajiban yang lebih mendalam kepada pembaca dan pemirsa mereka daripada pada permintaan pasar.”
---David Talbot--- Salon.com

”Buku paling penting tentang hubungan jurnalisme dan demokrasi yang diterbitkan dalam lima puluh tahun terakhir. Reporter dan redaktur harus mengingat standar – standarnya. Penerbit dan pemilik harus membacanya dan lantas bercermin. Sungguh langka sebuah buku teks tentang ide – ide muncul pada momen yang tepat, dengan desakan dari kecakapan intelektual yang belum pernah terlihat sebelumnya. Namun apa yang telah Rosenstiel dan Kovach berikan kepada kita adalah sebuah peta untuk perbincangan, perdebatan, dan tindakan saat kita mengkaji wilayah jurnalisme dan nilai – nilai bisnis.”
---Roy Peter Clark--- The Poynter Institute
Keempat komentar para tokoh jurnalisme di atas mewakili seluruh kelebihan yang dimiliki buku ini.


Kovach lahir dari keluarga Amerika keturunan Albania pada 1932 di Tennessee. Ayahnya seorang Muslim asal Albania. Ibunya seorang Katolik Ortodox, juga imigran dari Albania. Di Amerika mereka mengganti nama marganya dari “Kovachi” menjadi “Kovach” agar terasa keinggris-inggrisan.
Bill Kovach memulai karirnya pada 1959 di harian Johnson City Press-Chronicle. Dari tahun 1960 sampai 1967 ia jadi reporter pada Nashville Tennesseean. Di surat kabar ini, Kovach banyak meliput soal gerakan persamaan hak orang kulit hitam di Amerika, politik wilayah Selatan, dan kemiskinan di daerah pegunungan Appalachian. “Generasi sebelum saya menganggap berita orang kulit hitam tak perlu diliput. Tapi generasi kami mengubah keadaan itu,” kata Kovach.
Pada 1968, Kovach direkrut harian New York Times –salah satu suratkabar terbaik di dunia. Di tempat ini ia bekerja selama 18 tahun. Pada 1979-1986, ia jadi kepala biro New York Times di Washington, D.C. –sebuah jabatan berat karena biro ini besar dan secara tradisional jadi rival redaksi di New York. Dia sempat dicalonkan sebagai redaktur eksekutif New York Times, namun Arthur Sukzberger Jr., penerbit New York Times, memilih redaktur halaman opini Max Frankel. Kovach lalu mengundurkan diri dan jadi pemimpin redaksi harian Atlanta Journal-Constitution di Atlanta, ibukota Georgia.
Menurut laporan majalah Vanity Fair, Kovach mengubah harian itu jadi bermutu. Mereka memenangi dua penghargaan Pulitzer, penghargaan pertama untuk koran ini dalam 20 tahun. Dampaknya perusahaan-perusahaan besar di Atlanta merasa resah. Kalangan perbankan merasa tidak nyaman ketika seorang reporter Kovach menemukan praktek diskriminasi dalam praktek pemberian kredit bank. Orang-orang kuat Atlanta pun mulai merajuk pada keluarga Cox, pemilik harian ini. Pada 1989, Kovach mundur dari jabatannya karena berbeda pendapat dengan keluarga Cox.
Kovach lantas jadi kurator Nieman Foundation on Journalism di Universitas Harvard hingga tahun 2000. selama 10 tahun jadi guru wartawan di Nieman Foundation. Ada tiga orang Jakarta yang mendapat kesempatan menggali ilmu darinya: Goenawan Mohamad dari Tempo, Ratih Harjono dari Kompas, dan Andreas Harsono. Saat ini Kovach menjadi ketua Committee of Concerned Journalism.
Tom Resenstiel, mantan kritikus media harian Los Angeles Times dan kepala koresponden mingguan Newsweek. Saat ini direktur Project for Excellence in Journalism. Keduanya penulis buku Warp Speed: America in the Age of Mixed Media. Tom pun tinggal di Washington, D.C.
Buku ini bermula dari pada suatu hari Sabtu pada Juni 1997, ketika wartawan berkumpul di Harvard Faculty Club, Cambridge, Amerika Serikat. Yang menjadi permasalahan adalah karena mereka merasakan ada sesuatu yang salah dengan profesi mereka. Akibatnya masyarakat kian bertambah tak percaya kepada wartawan bahkan membencinya. Dalam ruang redaksi mereka tidak lagi berbicara tentang jurnalisme tetapi tergerus oleh tekanan bisnis dan perhitungan untung rugi. Akhirnya, Profesor James Carey dari California University menyatakan: “Problemnya adalah Anda melihat jurnalisme menghilang ke dalam dunia komunikasi yang lebih besar. Apa yang Anda dambakan adalah membangkitkan lagi jurnalisme dari dunia yang lebih besar itu.”
Setelah dua tahun berselang, mereka – yang kini menyebut diri Committee of Concerned Journalisme – mengatur pengujian yang sistematis dan komprehensif, yang pernah dilakukan wartawan tentang pengumpulan berita dan tanggung jawabnya. Mereka menggelar 21 forum yang dihadiri 3.000 orang dan melibatkan kesaksian lebih dari 300 wartawan. Dengan “Project of Excellence in Journalism”, mereka menghasilkan hamper selusin penelitian isi reportase berita, melakukan lebih dari 103,5 jam wawancara dengan para wartawan tentang nilai – nilai mereka. Mereka mempelajari sejarah para jurnalisme.
Buku ini adalah buah kajian tersebut. Buku ini bukan sebuah argumen. Ini merupakan sebuah teori dan budaya jurnalisme yang muncul setelah mereka menyimak selama tiga tahun apa saja yang disampaikan anggota masyarakat dan wartawan, ini hasil penelitian mereka yang bersifat empiris, dan pembacaan mereka terhadap sejarah profesi ini ketika berkembang di Amerika Serikat.
Dari penelitian mereka yang telah disarikan, ada beberapa prinsip nyata yang disetujui wartawan—dan menjadi hak anggota masyarakat untuk berharap. Prinsip-prinsip ini menyurut dan mengalir seiring waktu, namun mereka dalam beberapa batas tertentu selalu mudah dipahami. Prinsip-prinsip ini adalah elemen jurnalisme.
Tujuan pertama di antara tujuan-tujuan jurnalisme yang lain adalah menyediakan informasi yang diperlukan orang agar bebas dan bisa mengatur diri.
Untuk memenuhi tugas ini:
1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.
2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat.
3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi.
4. Praktisi jurnalisme harus menjaga independensi terhadap sumber berita.
5. Jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan.
6. Jurnalisme harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat.
7. Jurnalisme harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan.
8. Jurnalisme harus menyiarkan berita yang komprehensif dan prporsional.
9. Praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.
Mungkin Anda akan bertanya dimana letak kejujuran? Dimana keseimbangan? Setelah menyatukan bagian-bagian yang mereka pelajari, menjadi jelas bahwa sejumlah ide yang akrab bahkan bermanfaat—termasuk kejujuran dan keseimbangan—adalah hal yang terlalu samar pada tingkat dasar elemen profesi mereka.
Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah saya kemukan di atas—baik itu mengenai riwayat penulis maupun latar belakang bagaimana buku ini muncul—komentar saya mengenai buku ini yaitu sebuah buku yang membuka pandangan para wartawan dewasa ini yang telah melupakan esensi dasar jurnalisme, sebagai langkah pertama untuk membantu wartawan menyampaikan nilai-nilai tersebut, dan membantu masyarakat menciptakan tuntutan bagi jurnalisme untuk memegang prinsip-prinsip pers bebas bertanggungjawab.
Melalui buku ini, pengetahuan saya bertambah luas mengenai elemen jurnalisme yang wajib dianut oleh para wartawan, berikut sedikit penjelasannya:
1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.
Kebenaran jurnalistik adalah sebuah proses yang harus diawali dengan disiplin dalam pengumpulan dan proses verifikasi fakta. Sang wartawan kemudian harus menyampaikan makna tersebut untuk saat ini, dan bisa menjadi bahan untuk investigasi lanjutan. Dengan demikian wartawan harus menyajikan beritanya tanpa takut atau memihak, karena yang dibuatnya berdasarkan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat (voicing tha voiceless)
Bila wartawan harus menyajikan beritanya tanpa rasa takut/memihak (without fear or favor), maka wartawan harus memelihara kesetiaan kepada warga masyarakat dan kepentingan public yang lebih luas di atas yang lainnya.
3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi.
Seorang wartawan mengandalkan diri pada disiplin professional untuk melakukan verifikasi informasi, terkait juga dengan obyektifitas. Disiplin melakukan verifikasi mampu membuat wartawan menyaring desas-desus gossip, ingatan yang keliru dan manipulasi, sehingga bisa mendapatkan informasi yang akurat.
Lima konsep verifikasi:
a. jangan menambah/mengarang apa pun;
b. Jangan menipu/menyesatkan pembaca, pendengar, pemirsa;
c. Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi melakukan reportase;
d. Bersandarlah terutama pada reportase sendiri;
e. Bersikaplah rendah hati.
Metode verifikasi: penyuntingan secara skeptis; accuracy cheklist; jangan berasumsi; pengecekan fakta.
4. Praktisi jurnalisme harus menjaga independensi terhadap sumber berita.
Menjadi netral, bukanlah prinsip dasar jurnalisme. Prinsipnya, wartawan harus bersikap independent terhadap orang-orang yang mereka liput.
5. Jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan.
Prinsip ini menekankan pentingnya peran penjaga gawang (watchdog). Sebagai jurnalis, kita wajib melindungi kebebasan peran jaga ini dengan tidak merendahkannya, misalnya dengan menggunakannya secara sembarangan atau mengeksploitasinya untuk keuntungan komersial.
6. Jurnalisme harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat.
Logikanya, manusia itu punya rasa ingin tahu yang alamiah. Bila media melaporkan, katakanlah dari jadwal-jadwal acara hingga kejahatan publik hingga timbulnya suatu trend sosial, jurnalisme ini menggelitik rasa ingin tahu orang banyak. Ketika mereka bereaksi terhadap laporan-laporan itu maka masyarakat pun dipenuhi dengan komentar –mungkin lewat program telepon di radio, lewat talk show televisi, opini pribadi
7. Jurnalisme harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan.
Memikat sekaligus relevan. Ironisnya, dua faktor ini justru sering dianggap dua hal yang bertolakbelakang. Laporan yang memikat dianggap laporan yang lucu, sensasional, menghibur, dan penuh tokoh selebritas. Tapi laporan yang relevan dianggap kering, angka-angka, dan membosankan.
8. Jurnalisme harus menyiarkan berita yang komprehensif dan prporsional.
banyak suratkabar yang menyajikan berita yang tak proporsional. Judul-judulnya sensional. Penekanannya pada aspek yang emosional. Mungkin kalau di Jakarta contoh terbaik adalah harian Rakyat Merdeka. Suratkabar macam ini seringkali tidak proporsional dalam pemberitaannya.
9. Praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.
Setiap wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Dari ruang redaksi hingga ruang direksi, semua wartawan seyogyanya punya pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial.

Menurut saya buku ini sangat pantas dan wajib dibaca oleh para wartawan maupun mahasiswa Ilmu Komunikasi jurusan Jurnalistik agar dapat melakukan kegiatan jurnalisme yang benar-benar jurnalisme, bukan jurnalisme semu maupun jurnalisme yang sudah mulai luntur unsur jurnalistiknya (lebih mementingkan bisnis dari profesinya maupun upah yang didapatkan).
Dengan adanya buku ini, diharapkan hubungan antara wartawan dengan masyarakat dapat terjadi hubungan yang baik. Wartawan punya bayangan tentang apa yang diinginkan masyarakat. Dan menurut saya buku ini memberikan jalan keluar mengapa berita terlihat murahan dan kadang terlalu menghebohkan.
Mengutip perkataan Goenawan Mohamad tentang Bill Kovach: ”Orang ini sulit dicari kesalahannya.”

DAFTAR PUSTAKA

Sembilan Elemen Jurnalisme edisi Indonesia
http://emjaiz.wordpress.com/2008/06/03/sembilan-elemen-jurnalisme/
http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/05/sembilan-elemen-jurnalisme.html

1 komentar:

GooBlog mengatakan...

oioi ..
katanya dh rubah jd 10 .. ko msh 9 ?
hehehehe .. :)

sy ajja anak jurnal, tp gg tau . :(