CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Sabtu, 22 November 2008

Pemenang kehidupan Sejati

Dalam setiap pertandingan, pasti ada istilah menang atau kalah.
dalam pertandingan tidak ada orang yang , mau mengalah untuk orang lain atau rela untuk kalah dalam pertandingan dalam menunjukan prestasinya.
Sportifitas dalam pertandingan adalah menunjukan kemampuan dan prestasi seseorang dengan kesadaran penuh untuk meraih kemenangan dan menerima kekalahan.
Bila hidup ini diibaratkan pertandingan, maka kita akan melihat semua orang yang berhubungan dengan kita sebagai pesaing, dan disana ada persaingan.
Makanya ada persaingan sehat dan persaingan tidak sehat dalam mencapai suatu tujuan hidup.
Tetapi orang yang bijaksana tidak melihat hidup itu sebagai suatu persaingan. Memang dalam menggapai suatu tujuan hidup dibutuhkan suatu motivasi, di sinilah saat kita dapat berjalan bersama, bergandengan tangan dengan sesama untuk berlari marathon untuk mencapai tujuan.
Bersama-sama kita mendorong orang-orang untuk mengapai tujuan akhirnya.
Tidak ada pemenang dan Tidak ada yang kalah. semua saling mendukung, semua saling memberikan semangat.
Bila istilah dalam pertandingan ada seorang pemenang, maka Pemenang Sejati adalah mereka yang berada di garis terdepan selama perjalanan yang masih panjang untuk memberi petunjuk dan arah jalan yang harus dilalui.
Ketika sudah dekat dengan tujuan, ia menjadi orang yang akan berada dalam posisi akhir, memberikan semangat kepada orang lain untuk terus mencapai akhir tujuan.
Menunggu mereka yang tertatih-tatih memi mencapai tujuan akhir, bahkan membantu mereka yang kesulitan menyelesaikan perjalanannya.
Ia pun rela tuk menyusuri kembali track yang dilaluinya untuk mencari mereka yang tersesat.....
Bila semua telah sampai di Tujuan, maka ia adalah peserta terakhir yang menyelesaikan seluruh tugasnya.
Inilah yang disebut adalah Pemenang Kehidupan...


salam mudita,
Neng Xiu

Kamis, 20 November 2008

Cinta : sebuah karya dari khalil gibran

kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika di mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
” aku turut berbahagia untukmu ”

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
orang yang tak pernah menyatakan cinta
kepadamu, karena takut kau berpaling dan
memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan
menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau
sadari

sumber: M~licious

HACHIKO...

Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.
Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,” saya akan menunggu tuan kembali.”

“ Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!” teriak pegawai kereta setengah berkelakar.

Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,”guukh!”
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.
Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.


Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.

Sungguh kisah yg menggugah hati....tak habis2nya saya meneteskan air mata membaca cerita hidup Hachiko....

Film ttg kisah hachiko dibuat d jepang tahun 1987 dgn judul "Hachiko Monagatari". Film ini byk memperoleh penghargaan...
Dan saat ini versi hollywoodnya sedang dbuat dgn judul "Hachiko : A Dog's Story" (Starring and Co-Producted by Richard Gere)....



Selasa, 18 November 2008

TUJUH KEAJAIBAN DUNIA

sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari "Tujuh keajaiban Dunia". Pada awal pelajaran,mereka diminta untuk membuat daftar yang mereka pikir merupakan "Tujuh Keajaiban Dunia". Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian,sebagian besar daftar berisi
1. Piramida
2. Taj Mahal
3. Tembok Besar Cina
4. Menara Pisa
5. Menara Eiffel
6. Kuil Parthenon
7. Candi Borobudur
ketika mengumpulkan daftar jawaban, sang guru memperhatikan seorang pelajar yang belum mengumpulkan kertas jawabannya. Sang guru lalu bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan....
murid itu lalu menjawab....
"iya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya"
sang guru berkata, "baik, katakan pada kami apa yang kaumiliki"
murid itu ragu sejenak,kemudian membaca, "saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia" adalah
1. Bisa Melihat
2. Bisa Mendengar
3. Bisa Menyentuh
4. Bisa Menyayangi
5. Bisa Merasakan
6. Bisa Tertawa
7. dan Bisa Mencintai
Ruang kelas pun seketika menjadi sunyi....
renungan.....
Alangkah mudahnya bagi kita untuk dapat melihat hasil eksploitasi manusia dan kita menyebutnya "Keajaiban". Sementara untuk semua yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, kita menyebutnya sebagai hal "Biasa"....
semoga anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul - betul ajaib dalam kehidupan anda


salam koko

Sabtu, 15 November 2008

OPINI FILM VERONICA GUERIN...HIKZZZ...

Pertama-tama, film ini kurang menarik perhatian saya. Mungkin karena belum tahu siapa itu Veronica Guerin dan belum tahu kalau ternyata ini adalah kisah nyata. Veronica Guerin adalah seorang jurnalis yang berusaha membongkar jaringan pengedar obat terlarang di Irlandia yang pada waktu itu sangat bebas dan luput dari pihak yang berwenang. Cate Blanchett yang memerankan Veronica Guerin sangat menghayati perannya. Dalam film ini diceritakan lika-liku pengungkapan kebenaran yang sengaja ditutup-tutupi oleh sebagian orang di depan publik. Dramatis ketika sang pengungkap kebenaran itu harus meregang nyawa karena tulisan-tulisan kritisnya di surat kabar.

Saat meliput peredaran obat bius, ia menerima banyak sekali ancaman dan teror baik itu kepada dirinya maupun keluarganya. Pada 30 Januari 1995, Guerin ditembak oleh orang tak dikenal yang merangsek masuk ke dalam rumahnya. Ia ditembak di bagian kaki. Namun, insiden ini dinilai oleh beberapa orang sebagai tipuan Guerin untuk semakin meningkatkan popularitasnya. Tak dirundung lelah, Guerin tetap bersemangat untuk melanjutkan investigasinya. Independent Newspapers mencoba memberi dia sistem pengaman diri.

Film berdurasi 98 menit ini banyak menyajikan adegan menegangkan. Seperti misalnya ketika John Gilligan, seorang kriminal, menyerang Guerin saat ia mencoba mewawancarinya pada 13 September 1995. Alhasil bukannya berita yang didapat malah luka-luka penuh darah pada wajahnya. Bahkan, Gilligan sempat meneror dirinya dengan meneleponnya bahwa anak laki-lakinya akan ia culik dan akan dilecehkan seksual kalau Guerin masih melanjutkan tulisannya. Walaupun ia telah ditawari sejumlah uang untuk tutup mulut, tapi Guerin tetap seorang jurnalis yang punya keberanian mengungkap kebenaran. Ia tetap menulis dan menulis. Akhirnya, pada 26 Juni 1996, saat Guerin sedang menyetir mobilnya di sebuah perempatan, salah satu dari dua orang pengendara motor yang menguntitnya dari belakang, menumpahkan timah panas ke tubuhnya berkali-kali. Sontak, tubuh Guerin robek, terkoyak, dan berdarah. Guerin akhirnya tewas dalam usia 37 tahun.

Kematian Guerin membuat gempar. Perdana Menteri Irlandia John Bruton menyebutnya sebagai serangan pada demokrasi. Ini pun menyulut aksi dan ditabuhnya genderang perang melawan obat bius. Investigasi kejahatan obat bius dilanjutkan dengan menangkap ratusan kriminal dan memburu kelompok obat bius terorganisir. Pada November 1998, pengedar obat Paul Ward dinyatakan sebagai salah seorang pelaku pembunuhan. Termasuk juga Brian Meehan yang diyakini sebagai pengendara motor saat Guerin dibunuh.

Menurut saya, ending film ini sangat tidak terduga sebelumnya. Pertama-tama saya kurang respect pada tokoh utama karena terkesan terlalu berani bagi ukuran seorang perempuan, namun lama kelamaan saya sadar kalau itu adalah tuntutan profesinya yang ia senangi. Perasaan saya bercampur haru dan geram kepada orang yang memukuli Guerin hingga babak belur, walau bagaimanapun dia seorang perempuan tidak pantas diperlakukan kasar seperti itu. Emosi penonton terpancinga saat itu, apalagi saat ia ditembak mati di mobilnya. Saya sangat terharu dan kesal kenapa orang-orang disana tidak ada yang berinisiatif mengejar pelaku penembakan??? Mereka hanya terdiam sambil memandangi mobil merah yang berlumuran darah itu. Dan tangis saya pecah saat melihat scene anak laki-laki Guerin dipeluk oleh ayahnya ketika diberitahu kematian Guerin. Perasaan seorang anak yang kehilangan orang tuanya sangat menyentuh hati saya. Saya salut akan kegigihan dan kinerja Guerin dalam mencari bahan beritanya. Tetapi saya juga sedikit kesal pada Guerin, karena secinta apa pun pada profesi kita, tetapi kita harus tahu batasan-batasan yang perlu dilakukan. Jangan sampai kita membuat keluarga dan orang yang kita cintai ikut menderita.

Secara keseluruhan film ini bagus dan berhasil memancing emosi penonton dari yang semula tidak tertarik hingga akhirnya bisa menitikan air mata. Two thumbs up!!!

Sumber: http://musafirmuda.blogspot.com/2006/07/veronica-guerin.html

ANALISIS KICK ANDY – LASKAR PELANGI

KICK ANDY – LASKAR PELANGI

Setelah menonton video Kick Andy – Laskar Pelangi, yang dipandu oleh Andy F. Noya, yang pertama kali terlintas dalam pikiran setiap orang pasti acara ini sangat bagus dan kritis. Andy sangat piawai dalam mengarahkan para narasumber dalam menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkannya. Bahkan ia pun sering menyelipkan humor untuk membangun suasana. Andy menggunakan tipe pertanyaan terbuka sehingga penonton bisa mendapatkan informasi yang lebih dalam lagi. Seperti dalam kutipan berikut ini “Anda khan orang Belitung, kok namanya Andrea Hirata?” dari pertanyaan itu, Andrea bercerita kenapa bisa memiliki nama itu dan membuat penonton tertawa karena alasan yang diberikannya yaitu berasal dari seorang wanita Italia yang sedikit gila. Selain itu, “Kenapa disebut Laskar Pelangi yah?”, itu merupakan salah satu pertanyaan terbuka yang dikemukanan Andy kepada Andrea Hirata.

Selain melontarkan pertanyaan kepada narasumber inti (Andrea Hirata – penulis buku Laskar Pelangi dan Ibu Guru Muslimah), ia juga menghadirkan para pembaca yang telah mengalami sendiri perubahan setelah membaca buku Laskar Pelangi. Andy juga mengundang beberapa penulis buku lain yang terkenal untuk memberikan tanggapan mengenai Laskar Pelangi tersebut. “Bung Gde Prama, bagaimana Anda melihat kisah dari Andrea ini, dalam konteks menginspirasi orang?” dan jawaban yang didapat adalah sebuah buku yang tidak diterbitkan untuk diperjualbelikan tetapi hanya sebagai ungkapan perasaan si penulis dan intinya adalah Laskar Pelangi adalah ungkapan perasaan cinta seorang murid kepada gurunya.

Dalam membawakan acaranya, Andy tidak mendominasi pembicaraan, ia hanya membuat pertanyaan menggiring yang akan membuat si narasumber mengemukakan lebih jauh lagi kepada penonton. Seperti pertanyaannya, “Yang menarik adalah mengenai perjalanan hidup Andrea, ringkasnya, mulai dari Belitung, Palembang, Bogor, Bandung, kemudian apa yang terjadi pada Anda hingga akhirnya dapat bersekolah di Paris? Jawaban Andrea adalah bahwa intinya itu merupakan balas dendam kepada kekecewaan pada nasib Lintang dan berusaha keras tidak menjadi Lintang kedua dan meneruskan cita-cita Lintang untuk bersekolah ke Perancis dengan cara mendapatkan beasiswa untuk sekolah disana. Kick Andy show menggunakan konsep interaktif dimana narasumber pendukung berada di posisi penonton sehingga tercipta komunikasi dua arah antara penonton dengan yang ada di atas panggung.

Selain itu, acara ini sangat menguntungkan pihak penonton khususnya yang hadir di studio karena bisa membawa pulang masing-masing satu buah buku Laskar Pelangi. Dan tentunya Andy sangat santai dan familiar membawakan acaranya bahkan sempat membuat kejutan kepada Andrea Hirata. Sehingga membuatnya dan para penonton di studio maupun di rumah meneteskan air mata haru.

SUMBER:

http://www.youtube.com/watch?v=j6coCgd4Njk

http://www.youtube.com/watch?v=UR9RveCKgkE&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=hZNWTyJkc48&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=Qgc0_oFX6NY&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=BwEx8ymsRaM&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=OgIbCLb7JA4&feature=related

SEMBILAN ELEMEN JURNALISME

The Element of Journalism: What Newspeople Shoul Know and the Public Should Expert, buku yang ditulis oleh Bill Kovach dan koleganya Tom Rosenstiel (April 2005) 205 halaman. Di Indonesia, buku ini ditebitkan dengan judul Sembilan Elemen Jurnalisme oleh Yayasan Pantau, bekerjasama dengan Institut Arus Informasi dan Kedutaan Besar Amerika. Kata pengantar edisi Indonesia ditulis oleh Goenawan Mohammad sedangkan epilognya ditulis oleh Andreas Harsono.

“Buku hebat yang secara luar biasa menggambarkan problem, mengartikulasikan nilai, memaparakan risiko, dan menawarkan cara yang bisa dipahami dan dipraktikan untuk menanggapi kesulitan yang dialami jurnalisme saat ini. Elemen Jurnalisme layak menjadi bacaan wajib setiap institusi dan siapa pun yang terlibat dalam jurnalisme.”
---Neil Rudenstine--- rektor Harvard University
“Saat kemajuan teknologi dan kekuatan dunia usaha menghasilkan tantangan yang sangat dahsyat terhadap nilai – nilai tradisional dalam jurnalisme, Kovach dan Rosenstiel menulis pelajaran yang sangat berharga tentang siapa kita, apa yang kita kerjakan, dan bagaimana seharusnya kita melakukannya.”
---David Halberstam--- wartawan peraih Pulitzer Prize
“Di zaman ketika kedengkian partisan yang polah tingkahnya digerakan oleh rating telah mendesak nilai – nilai bermanfaat dari jurnalisme yang solid, Tom Rosenstiel dan Bill Kovach menghadirkan kesegaran yang muncul tepat waktu mengenai pentingnya dasar – dasar pers. Mereka mengingatkan kita bahwa pada saat terbaiknya, jurnalisme adalah panggilan kemasyarakatan yang mulia, dan mereka yang mempraktikannya punya kewajiban yang lebih mendalam kepada pembaca dan pemirsa mereka daripada pada permintaan pasar.”
---David Talbot--- Salon.com

”Buku paling penting tentang hubungan jurnalisme dan demokrasi yang diterbitkan dalam lima puluh tahun terakhir. Reporter dan redaktur harus mengingat standar – standarnya. Penerbit dan pemilik harus membacanya dan lantas bercermin. Sungguh langka sebuah buku teks tentang ide – ide muncul pada momen yang tepat, dengan desakan dari kecakapan intelektual yang belum pernah terlihat sebelumnya. Namun apa yang telah Rosenstiel dan Kovach berikan kepada kita adalah sebuah peta untuk perbincangan, perdebatan, dan tindakan saat kita mengkaji wilayah jurnalisme dan nilai – nilai bisnis.”
---Roy Peter Clark--- The Poynter Institute
Keempat komentar para tokoh jurnalisme di atas mewakili seluruh kelebihan yang dimiliki buku ini.


Kovach lahir dari keluarga Amerika keturunan Albania pada 1932 di Tennessee. Ayahnya seorang Muslim asal Albania. Ibunya seorang Katolik Ortodox, juga imigran dari Albania. Di Amerika mereka mengganti nama marganya dari “Kovachi” menjadi “Kovach” agar terasa keinggris-inggrisan.
Bill Kovach memulai karirnya pada 1959 di harian Johnson City Press-Chronicle. Dari tahun 1960 sampai 1967 ia jadi reporter pada Nashville Tennesseean. Di surat kabar ini, Kovach banyak meliput soal gerakan persamaan hak orang kulit hitam di Amerika, politik wilayah Selatan, dan kemiskinan di daerah pegunungan Appalachian. “Generasi sebelum saya menganggap berita orang kulit hitam tak perlu diliput. Tapi generasi kami mengubah keadaan itu,” kata Kovach.
Pada 1968, Kovach direkrut harian New York Times –salah satu suratkabar terbaik di dunia. Di tempat ini ia bekerja selama 18 tahun. Pada 1979-1986, ia jadi kepala biro New York Times di Washington, D.C. –sebuah jabatan berat karena biro ini besar dan secara tradisional jadi rival redaksi di New York. Dia sempat dicalonkan sebagai redaktur eksekutif New York Times, namun Arthur Sukzberger Jr., penerbit New York Times, memilih redaktur halaman opini Max Frankel. Kovach lalu mengundurkan diri dan jadi pemimpin redaksi harian Atlanta Journal-Constitution di Atlanta, ibukota Georgia.
Menurut laporan majalah Vanity Fair, Kovach mengubah harian itu jadi bermutu. Mereka memenangi dua penghargaan Pulitzer, penghargaan pertama untuk koran ini dalam 20 tahun. Dampaknya perusahaan-perusahaan besar di Atlanta merasa resah. Kalangan perbankan merasa tidak nyaman ketika seorang reporter Kovach menemukan praktek diskriminasi dalam praktek pemberian kredit bank. Orang-orang kuat Atlanta pun mulai merajuk pada keluarga Cox, pemilik harian ini. Pada 1989, Kovach mundur dari jabatannya karena berbeda pendapat dengan keluarga Cox.
Kovach lantas jadi kurator Nieman Foundation on Journalism di Universitas Harvard hingga tahun 2000. selama 10 tahun jadi guru wartawan di Nieman Foundation. Ada tiga orang Jakarta yang mendapat kesempatan menggali ilmu darinya: Goenawan Mohamad dari Tempo, Ratih Harjono dari Kompas, dan Andreas Harsono. Saat ini Kovach menjadi ketua Committee of Concerned Journalism.
Tom Resenstiel, mantan kritikus media harian Los Angeles Times dan kepala koresponden mingguan Newsweek. Saat ini direktur Project for Excellence in Journalism. Keduanya penulis buku Warp Speed: America in the Age of Mixed Media. Tom pun tinggal di Washington, D.C.
Buku ini bermula dari pada suatu hari Sabtu pada Juni 1997, ketika wartawan berkumpul di Harvard Faculty Club, Cambridge, Amerika Serikat. Yang menjadi permasalahan adalah karena mereka merasakan ada sesuatu yang salah dengan profesi mereka. Akibatnya masyarakat kian bertambah tak percaya kepada wartawan bahkan membencinya. Dalam ruang redaksi mereka tidak lagi berbicara tentang jurnalisme tetapi tergerus oleh tekanan bisnis dan perhitungan untung rugi. Akhirnya, Profesor James Carey dari California University menyatakan: “Problemnya adalah Anda melihat jurnalisme menghilang ke dalam dunia komunikasi yang lebih besar. Apa yang Anda dambakan adalah membangkitkan lagi jurnalisme dari dunia yang lebih besar itu.”
Setelah dua tahun berselang, mereka – yang kini menyebut diri Committee of Concerned Journalisme – mengatur pengujian yang sistematis dan komprehensif, yang pernah dilakukan wartawan tentang pengumpulan berita dan tanggung jawabnya. Mereka menggelar 21 forum yang dihadiri 3.000 orang dan melibatkan kesaksian lebih dari 300 wartawan. Dengan “Project of Excellence in Journalism”, mereka menghasilkan hamper selusin penelitian isi reportase berita, melakukan lebih dari 103,5 jam wawancara dengan para wartawan tentang nilai – nilai mereka. Mereka mempelajari sejarah para jurnalisme.
Buku ini adalah buah kajian tersebut. Buku ini bukan sebuah argumen. Ini merupakan sebuah teori dan budaya jurnalisme yang muncul setelah mereka menyimak selama tiga tahun apa saja yang disampaikan anggota masyarakat dan wartawan, ini hasil penelitian mereka yang bersifat empiris, dan pembacaan mereka terhadap sejarah profesi ini ketika berkembang di Amerika Serikat.
Dari penelitian mereka yang telah disarikan, ada beberapa prinsip nyata yang disetujui wartawan—dan menjadi hak anggota masyarakat untuk berharap. Prinsip-prinsip ini menyurut dan mengalir seiring waktu, namun mereka dalam beberapa batas tertentu selalu mudah dipahami. Prinsip-prinsip ini adalah elemen jurnalisme.
Tujuan pertama di antara tujuan-tujuan jurnalisme yang lain adalah menyediakan informasi yang diperlukan orang agar bebas dan bisa mengatur diri.
Untuk memenuhi tugas ini:
1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.
2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat.
3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi.
4. Praktisi jurnalisme harus menjaga independensi terhadap sumber berita.
5. Jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan.
6. Jurnalisme harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat.
7. Jurnalisme harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan.
8. Jurnalisme harus menyiarkan berita yang komprehensif dan prporsional.
9. Praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.
Mungkin Anda akan bertanya dimana letak kejujuran? Dimana keseimbangan? Setelah menyatukan bagian-bagian yang mereka pelajari, menjadi jelas bahwa sejumlah ide yang akrab bahkan bermanfaat—termasuk kejujuran dan keseimbangan—adalah hal yang terlalu samar pada tingkat dasar elemen profesi mereka.
Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah saya kemukan di atas—baik itu mengenai riwayat penulis maupun latar belakang bagaimana buku ini muncul—komentar saya mengenai buku ini yaitu sebuah buku yang membuka pandangan para wartawan dewasa ini yang telah melupakan esensi dasar jurnalisme, sebagai langkah pertama untuk membantu wartawan menyampaikan nilai-nilai tersebut, dan membantu masyarakat menciptakan tuntutan bagi jurnalisme untuk memegang prinsip-prinsip pers bebas bertanggungjawab.
Melalui buku ini, pengetahuan saya bertambah luas mengenai elemen jurnalisme yang wajib dianut oleh para wartawan, berikut sedikit penjelasannya:
1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.
Kebenaran jurnalistik adalah sebuah proses yang harus diawali dengan disiplin dalam pengumpulan dan proses verifikasi fakta. Sang wartawan kemudian harus menyampaikan makna tersebut untuk saat ini, dan bisa menjadi bahan untuk investigasi lanjutan. Dengan demikian wartawan harus menyajikan beritanya tanpa takut atau memihak, karena yang dibuatnya berdasarkan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat (voicing tha voiceless)
Bila wartawan harus menyajikan beritanya tanpa rasa takut/memihak (without fear or favor), maka wartawan harus memelihara kesetiaan kepada warga masyarakat dan kepentingan public yang lebih luas di atas yang lainnya.
3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi.
Seorang wartawan mengandalkan diri pada disiplin professional untuk melakukan verifikasi informasi, terkait juga dengan obyektifitas. Disiplin melakukan verifikasi mampu membuat wartawan menyaring desas-desus gossip, ingatan yang keliru dan manipulasi, sehingga bisa mendapatkan informasi yang akurat.
Lima konsep verifikasi:
a. jangan menambah/mengarang apa pun;
b. Jangan menipu/menyesatkan pembaca, pendengar, pemirsa;
c. Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi melakukan reportase;
d. Bersandarlah terutama pada reportase sendiri;
e. Bersikaplah rendah hati.
Metode verifikasi: penyuntingan secara skeptis; accuracy cheklist; jangan berasumsi; pengecekan fakta.
4. Praktisi jurnalisme harus menjaga independensi terhadap sumber berita.
Menjadi netral, bukanlah prinsip dasar jurnalisme. Prinsipnya, wartawan harus bersikap independent terhadap orang-orang yang mereka liput.
5. Jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan.
Prinsip ini menekankan pentingnya peran penjaga gawang (watchdog). Sebagai jurnalis, kita wajib melindungi kebebasan peran jaga ini dengan tidak merendahkannya, misalnya dengan menggunakannya secara sembarangan atau mengeksploitasinya untuk keuntungan komersial.
6. Jurnalisme harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat.
Logikanya, manusia itu punya rasa ingin tahu yang alamiah. Bila media melaporkan, katakanlah dari jadwal-jadwal acara hingga kejahatan publik hingga timbulnya suatu trend sosial, jurnalisme ini menggelitik rasa ingin tahu orang banyak. Ketika mereka bereaksi terhadap laporan-laporan itu maka masyarakat pun dipenuhi dengan komentar –mungkin lewat program telepon di radio, lewat talk show televisi, opini pribadi
7. Jurnalisme harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan.
Memikat sekaligus relevan. Ironisnya, dua faktor ini justru sering dianggap dua hal yang bertolakbelakang. Laporan yang memikat dianggap laporan yang lucu, sensasional, menghibur, dan penuh tokoh selebritas. Tapi laporan yang relevan dianggap kering, angka-angka, dan membosankan.
8. Jurnalisme harus menyiarkan berita yang komprehensif dan prporsional.
banyak suratkabar yang menyajikan berita yang tak proporsional. Judul-judulnya sensional. Penekanannya pada aspek yang emosional. Mungkin kalau di Jakarta contoh terbaik adalah harian Rakyat Merdeka. Suratkabar macam ini seringkali tidak proporsional dalam pemberitaannya.
9. Praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.
Setiap wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Dari ruang redaksi hingga ruang direksi, semua wartawan seyogyanya punya pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial.

Menurut saya buku ini sangat pantas dan wajib dibaca oleh para wartawan maupun mahasiswa Ilmu Komunikasi jurusan Jurnalistik agar dapat melakukan kegiatan jurnalisme yang benar-benar jurnalisme, bukan jurnalisme semu maupun jurnalisme yang sudah mulai luntur unsur jurnalistiknya (lebih mementingkan bisnis dari profesinya maupun upah yang didapatkan).
Dengan adanya buku ini, diharapkan hubungan antara wartawan dengan masyarakat dapat terjadi hubungan yang baik. Wartawan punya bayangan tentang apa yang diinginkan masyarakat. Dan menurut saya buku ini memberikan jalan keluar mengapa berita terlihat murahan dan kadang terlalu menghebohkan.
Mengutip perkataan Goenawan Mohamad tentang Bill Kovach: ”Orang ini sulit dicari kesalahannya.”

DAFTAR PUSTAKA

Sembilan Elemen Jurnalisme edisi Indonesia
http://emjaiz.wordpress.com/2008/06/03/sembilan-elemen-jurnalisme/
http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/05/sembilan-elemen-jurnalisme.html