



4 musim jadi saTu...hehe^^...
keren bgt...
Beberapa teori komunikasi yang dikaitkan dengan Public Relations, antara lain:
A. Komunikasi persuasif
`Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bersifat mempengaruhi pemirsanya, sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Persuasi adalah himbauan atau ajakan kepada orang lain agar melakukan apa yang komunikator himbaukan dengan cara memberikan alasan dan prospek baik yang menyakinkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Intinya adalah kegiatan komunikasi yang mempengaruhi pendengarnya (komunikan).
Beberapa hal dalam komunikasi persuasif yang dapat mempengaruhi orang lain.
Komunikator yang mempunyai kredibilitas yang tinggi; contoh: mempunyai pengetahuan tentang apa yang disampaikannya.
Pesan yang disampaikan didukung oleh fakta – fakta atau bukti yang kuat sehingga orang lain percaya dan terpengaruh perilakunya.
Media yang menjadi sarana penyampaian pesan apabila diberitakan secara terus menerus akan membentuk pola pikir yang terpengaruh terhadap apa yang disampaikan.
Dalam komunikasi persuasif yang berkaitan dengan public relations antara lain:
1. Retorika
Retorika (dari bahasa Yunani ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) secara umum ialah seni atau teknik persuasi menggunakan media oral atau tertulis, bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah disebutkan diatas) dan praktek kontemporer dari retorika yang termasuk analisa atas teks tertulis dan visual. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, retorika adalah seni berpidato yang bombastis.
Contoh: Pengamat ekonomi politik yang juga anggota panitia anggaran (panggar) dari FPAN DPR Drajad Wibowo, menganggap pidato Presiden SBY yang disampaikan bersamaan dengan keterangan pemerintah atas rancangan UU APBN 2009, di DPR, Jumat (15/8) sebuah retorika. Untuk lebih jelas kunjungi http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/15/13434434/pidato.sby.retorika
2. Difusi inovasi
Inovasi
Secara umum, inovasi didefinisikan sebagai suatu ide, praktek atau obyek yang dianggap sebagai sesuatu yang baru oleh seorang individu atau satu unit adopsi lain. Thompson dan Eveland (1967) mendefinisikan inovasi sama dengan teknologi, yaitu suatu desain yang digunakan untuk tindakan instrumental dalam rangka mengurangi ketidak teraturan suatu hubungan sebab akibat dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi, inovasi dapat dipandang sebagai suatu upaya untuk mencapai tujuan tertentu. Fullan (1996) menerangkan bahwa tahun 1960-an adalah era dimana banyak inovasi-inovasi pendidikan kontemporer diadopsi, seperti matematika, kimia dan fisika baru, mesin belajar (teaching machine), pendidikan terbuka, pembelajaran individu, pengajaran secara team (team teaching) dan termasuk dalam hal ini adalah sistem belajar mandiri.
Difusi
Difusi didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu selama jangka waktu tertentu terhadap anggota suatu sistem sosial. Difusi dapat dikatakan juga sebagai suatu tipe komunikasi khusus dimana pesannya adalah ide baru. Disamping itu, difusi juga dapat diangap sebaai suatu jenis perubahan sosial yaitu suatu proses perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi sistem sosial. Jelas disini bahwa istilah difusi tidak terlepas dari kata inovasi. Karena tujuan utama proses difusi adalah diadopsinya suatu inovasi oleh anggota sistem sosial tertentu. Anggota sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi dan atau sub sistem.
Unsur-Unsur Difusi Inovasi
Proses difusi inovasi melibatkan empat unsur utama, meliputi 1) inovasi; 2) saluran komunikasi; 3) kurun waktu tertentu; dan 4) sistem sosial.
B. Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah komunikasi yang terjadi dalam lingkup suatu organisasi atau lembaga seperti sekolah, kalangan mahasiswa, universitas, rumah sakit dan lain – lain. Organisasi adalah suatu kumpulan atau sistem individual yang berhierarki secara jenjang dan memiliki sistem pembagian tugas untuk mencapai tujuan tertentu. DeVito (1997:337), menjelaskan organisasi sebagai suatu kelompok individu yang diorganisasi untuk mencapai tujuan tertentu.
Ada 4 fungsi:
1. Fungsi informatif , organisasi dipandang sebagai suatu sistem proses informasi. Maksutnya,seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik,dan lebih tepat.
2. Fungsi regulative, fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Ada dua hal yang berpengaru terhadap fungsi regulatif,. Pertama, atasan atau orang yang berada dalam tataran managemen, yaitu mereka memiliki kewenanganuntuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Kedua, berkaitan dengan pesan atau message,pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja.
3. Fungsi persuasive, dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan lebih suka memersuasi bawahanya dari pada memberi perintah
4. Fungsi integrative, setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan baik.
Komunikasi organisasi terdiri dari teori sistem, pengambilan keputusan kelompok, budaya organisasi yang berkaitan dengan public relations:
· Budaya organisasi
Seperti halnya individu organisasi juga mempunyai kepribadian. Kepribadian pada sebuah organisasi lebih dikenal dengan nama budaya organisasi. Menurut Prof. Dr. Taliziduhu Ndraha, budaya dalam organisasi adalah nilai-nilai dasar yang diciptakan, ditemukan dan dikembangkan dalam organisasi. Karena budaya organisasi berupa nilai-nilai, maka berkaitan dengan visi organisasi atau cita-cita organisasi (Master, Oktober 2000).
Contoh: organisasi Koperasi TNI AL. Koperasi TNI AL merupakan sub organisasi TNI AL yang mempunyai visi dan misi berbeda sehingga untuk mencapai tujuan organisasi tersebut perlu adanya transformasi budaya dan budaya militer menjadi budaya kewirausahaan.
C. Media Massa
Media adalah sarana yang dipergunakan oleh komunikator sebagai saluran untuk menyampaikan suatu pesan kepada komunikan, apabila komunikan jauh tempatnya atau banyak,jumlahnya atau kedua-duanya. (Sumber : Kamus Komunikasi, Drs. Onong Uchjana Effendy, MA). Media komunikasi adalah suatu sarana yang memungkinkan tersampaikannya suatu pesan. Media massa adalah sarana yang mentransmisikan pesan-pesan yang identik kepada sejumlah besar orang yang secara fisik berpencaran. (Sumber : Hubungan Masyarakat, Prinsip, Kasus dan Masalah, H. Frazier Moore).
Media massa ada yang cetak (koran, majalah, buletin) dan elektronik (televisi, radio) bahkan sekarang ada media online (internet melalui komputer seperti blog dan sebagainya). Media massa sering dikatakan memiliki peran sebagai "anjing penjaga" dan berdiri di sisi yang berlawanan dengan pemerintah. Salah satu manfaat utama pers yang bebas dalam sistem demokrasi sering dinyatakan dengan kewajiban untuk menyediakan informasi pada masyarakat mengenai kinerja pemerintah. Peran pers juga terkait fungsinya sebagai pilar keempat dalam demokrasi pancasila.
Apabila dikaitkan dengan public relations, yang termasuk dalam media masa, misal opini publik, spiral of silence, semiotika, uses and gratifications.
· Opini publik
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, opini public adalah pendapat masyarakat, pendapat umum, pendapat sebagian besar masyarakat.
Opini publik adalah unsur-unsur dari pandangan, perspektif dan tanggapan masyarakat mengenai suatu kejadian, keadaan, dan desas-desus tentang peristiwa-peristiwa tertentu.
· Spiral of silence
The spiral of silence is a political science and mass communication theory propounded by the German political scientist Elisabeth Noelle-Neumann. The theory asserts that a person is less likely to voice an opinion on a topic if one feels that one is in the minority for fear of reprisal or isolation from the majority (Anderson 1996: 214; Miller 2005: 277). Recent investigation into the Internet has raised the question whether the "spiral of silence" exists on the communicative nature of the Internet.
Teori Spiral Keheningan ini dapat diuraikan sebagai berikut: individu memiliki opini tentang berbagai isu. Akan tetapi, ketakutan akan terisolasi menentukan apakah individu itu akan mengekspresikan opini-opininya secara umum. Untuk meminimalkan kemungkinan terisolasi, individu-individu itu mencari dukungan bagi opini mereka dari lingkungannya, terutama dari media massa.
Media massa - dengan bias kekiri-kirian mereka - memberikan interpretasi yang salah pada individu-individu itu tentang perbedaan yang sebenarnya dalam opini publik pada berbagai isu. Media mendukung opini-opini kelompok kiri dan biasanya menggambarkan kelompok tersebut dalam posisi yang dominan.
Sebagai akibatnya, individu-individu itu mungkin mengira apa yang sesungguhnya posisi mayoritas sebagai opini suatu kelompok minoritas. Dengan berlalunya waktu, maka lebih banyak orang akan percaya pada opini yang tidak didukung oleh media massa itu, dan mereka tidak lagi mengekspresikan pandangan mereka secara umum karena takut akan terisolasi. Selama waktu tersebut, karena ‘mayoritas yang bisu’ tetap diam, ide minoritas mendominasi diskusi. Yang terjadi kemudian, apa yang pada mulanya menjadi opini minoritas, di kemudian hari dapat menjadi dominan.
Spiral keheningan mengajak kita kembali kepada teori media massa yang perkasa, yang mempengaruhi hampir setiap orang dengan cara yang sama (Noelle-Meumann, 1973).
D. Tradisi Kultural
Tradisi adalah adat kebiasaan yang diturunkan dari nenek moyang yang dijalankan oleh masyarakat (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Tradisi (Bahasa Latin: traditio, "diteruskan") atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.
Tradisi kultural yang dimaksudkan disini adalah mengenai kebudayaan yang sudah menjadi tradisi secara turun temurun dan menjadi kebuadayaan dimana kaitannya dengan public relations misalnya interaksi simbolik dan konteks budaya.
· Interaksi simbolik
Tokoh teori interaksi simbolik antara lain : George Herbert Mend, Herbert Blumer, Wiliam James, Charles Horton Cooley. Teori interaksi simbolik menyatakan bahwa interaksi sosial adalah interaksi symbol. Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol yang lain memberi makna atas simbol tersebut.
Asumsi-asumsi:
Contoh: warna merah di suatu tempat sudah disepakati sebagai tanda yang berarti berani, atau di tempat lainnya berarti komunis. Simbol H2O berarti air, simbol ♂berarti laki – laki (jantan) sedangkan ♀ untuk perempuan (betina), dan lain – lain.
· Konteks budaya
Yaitu tradisi kultural yang berbeda – beda antara budaya yang satu dengan budaya lainnya sesuai dengan konteks budaya masing – masingnya seperti daerah, bahasa, cara berpakaian, makanan, adat istiadat, tata krama, sopan santun dan lain – lain.
Misalnya budaya inggris dan budaya Indonesia memandang waktu sehari semalam yang 24 jam itu. Pukul satu malam budaya inggris mengatakan Good morning alias selamat pagi; padahal budaya Indonesia mengatakan selamat malam karena memang masih malam, matahari belum terbit. Sebaliknya pukul sebelas siang, buadaya barat masih juga mengatakan selamat pagi; padahal budaya Indonesia mengucapkan selamat siang karena memang hari sudah siang, matahari sudah tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_persuasi
http://fakultasluarkampus.net/apakah-difusi-inovasi-itu/
http://kuliah.dagdigdug.com/2008/07/22/komunikasi-dalam-organisasi-kdo/#more-29
http://beta.tnial.mil.id/cakrad.php3?id=33
http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Kehumasan&start=2
http://www.depkumham.go.id/xDepkumhamElearning/xBuku/kehumasan/MediaMassaPemerintahdanHumas.htm
http://kuliahkomunikasi.com/?p=24
http://en.wikipedia.org/wiki/Spiral_of_silence
http://teddykw1.wordpress.com/2008/02/26/teori-spiral-keheningan-spiral-of-silence-theory/
http://id.wikipedia.org/wiki/Tradisi
http://antari05.blogspot.com/2007/11/komunikasi-sosial-budaya.html
Kamus Besar Bahasa Indonesia
by : Yoretta Yang Wahyudi - 915070037
| Dalam setiap pertandingan, pasti ada istilah menang atau kalah. dalam pertandingan tidak ada orang yang , mau mengalah untuk orang lain atau rela untuk kalah dalam pertandingan dalam menunjukan prestasinya. Sportifitas dalam pertandingan adalah menunjukan kemampuan dan prestasi seseorang dengan kesadaran penuh untuk meraih kemenangan dan menerima kekalahan. Bila hidup ini diibaratkan pertandingan, maka kita akan melihat semua orang yang berhubungan dengan kita sebagai pesaing, dan disana ada persaingan. Makanya ada persaingan sehat dan persaingan tidak sehat dalam mencapai suatu tujuan hidup. Tetapi orang yang bijaksana tidak melihat hidup itu sebagai suatu persaingan. Memang dalam menggapai suatu tujuan hidup dibutuhkan suatu motivasi, di sinilah saat kita dapat berjalan bersama, bergandengan tangan dengan sesama untuk berlari marathon untuk mencapai tujuan. Bersama-sama kita mendorong orang-orang untuk mengapai tujuan akhirnya. Tidak ada pemenang dan Tidak ada yang kalah. semua saling mendukung, semua saling memberikan semangat. Bila istilah dalam pertandingan ada seorang pemenang, maka Pemenang Sejati adalah mereka yang berada di garis terdepan selama perjalanan yang masih panjang untuk memberi petunjuk dan arah jalan yang harus dilalui. Ketika sudah dekat dengan tujuan, ia menjadi orang yang akan berada dalam posisi akhir, memberikan semangat kepada orang lain untuk terus mencapai akhir tujuan. Menunggu mereka yang tertatih-tatih memi mencapai tujuan akhir, bahkan membantu mereka yang kesulitan menyelesaikan perjalanannya. Ia pun rela tuk menyusuri kembali track yang dilaluinya untuk mencari mereka yang tersesat..... Bila semua telah sampai di Tujuan, maka ia adalah peserta terakhir yang menyelesaikan seluruh tugasnya. Inilah yang disebut adalah Pemenang Kehidupan... salam mudita, Neng Xiu |
Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.
Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.
Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.
Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.
Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.
Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,” saya akan menunggu tuan kembali.”
“ Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!” teriak pegawai kereta setengah berkelakar.
Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,”guukh!”
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.
Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.
Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.
Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.
Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.
Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.
Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.
Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.
Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.
Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.
Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.
Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.
Sungguh kisah yg menggugah hati....tak habis2nya saya meneteskan air mata membaca cerita hidup Hachiko....
Film ttg kisah hachiko dibuat d jepang tahun 1987 dgn judul "Hachiko Monagatari". Film ini byk memperoleh penghargaan...
Dan saat ini versi hollywoodnya sedang dbuat dgn judul "Hachiko : A Dog's Story" (Starring and Co-Producted by Richard Gere)....